Di beberapa kesempatan belakangan ini, aku berkali-kali puasa media sosial, terutama WhatsApp. Entah kenapa aplikasi yang paling banyak mendistraksi, menyita waktu, dan menyerap energiku adalah aplikasi besutan Facebook tersebut.
Sekira Maret 2021 aku mulai menginstall-menguninstall WhatsApp. Namun hanya beberapa hari, paling lama satu minggu. Tentunya bukan tanpa alasan. Yang paling depresif adalah soal kerjaan. Kalau bukan karena pekerjaan, aku mungkin tidak akan menggunakan aplikasi berbagi pesan tersebut. Namun, sejak memutuskan untuk resign pada Juli 2021, aku semakin ingin menghilang dari ‘peredaran’, terutama di media sosial, dan terutamanya lagi ingin menjauh dari orang-orang toxic, khususnya yang sering berinteraksi dengan aku via WhatsApp.
Menjelang akhir tahun, tepatnya pada pertengahan November 2021 hingga awal Desember 2021, aku uninstall WhatsApp di handphone-ku. Disusul aplikasi Facebook. Aku memilih hanya akan lebih aktif di Instagram, Twitter, dan blog-ku ini saja; Instagram karena menganggap di sana lebih banyak inner circle-ku, Twitter karena isinya orang-orang yang kritis, dan blog adalah ruang privatku untuk berkeluh-kesah. Oh ya, ditambah lagi menjadi silent reader di aplikasi Quora untuk memenuhi dahagaku dalam mencari teman-teman sefrekuensi.
Melakukan puasa media sosial tentunya sangat perlu untuk kestabilan emosi dan kesehatan mental. Mengingat bahwa interaksi sosial di zaman sekarang sudah bergeser dari offline ke online. Karena untuk mencapai itu semua harus dilakukan dari berbagai sisi. “Kita tidak bisa menutup mulut semua orang, melainkan kita cukup menutup telinga kita saja”, bukan?
Kamu tertarik untuk melakukan puasa media sosial juga, nggak?
0 Komentar