Advertisement

DUCK SYNDROME #30DaysWritingChallenge


Masalah dalam hidup seolah tak berhenti datang. Ada saja yang membuat kalut dan kita mengerahkan energi untuk menghadapinya. Kadang capek juga. Tapi sebagai manusia, kita dituntut untuk bijak. Tanda kebijaksanaan dalam menghadapi masalah salah satunya adalah kita tidak boleh terlalu larut dalam masalah itu dan sebisa mungkin tetap bersikap biasa-biasa saja.

Maka muncullah istilah "Duck Syndrome". Apa itu? Melansir Stanford University via Alodokter.com, “Duck Syndrome atau Sindrom Bebek adalah sebuah sindrom yang menganalogikan bebek yang berenang seolah sangat tenang, tetapi kakinya berjuang keras untuk bergerak agar tubuhnya tetap bisa berada di atas permukaan air.

Hal tersebut dikaitkan pada kondisi di mana seseorang yang terlihat tenang dan baik-baik saja, tetapi sebenarnya ia mengalami banyak tekanan dan kepanikan dalam mencapai tuntutan hidupnya, misalnya nilai bagus, lulus cepat, atau hidup mapan, atau memenuhi ekspektasi orang tua dan orang di sekitarnya
.” Nah, sepertinya aku termasuk yang mengalaminya.

Kita hanya akan terbuka dan menunjukkan kelemahan kita pada orang yang kita percaya. Kalimat inilah yang selalu aku pegang. Aku jarang menampakkan saat aku lagi punya masalah atau beban pikiran. Biasanya aku kamuflase dengan tetap terlihat ceria seperti orang-orang pada umumnya karena alasan “aku adalah manusia dewasa”. Padahal aslinya ambyar, hancur sehancur hancurnya. Mau menangis sejadi-jadinya sepertinya susah sekali. Kalau sudah begitu, pelarianku hanyalah tidur. Walaupun setelah bangun tetap dihadapkan pada beban yang sama. Tapi setidaknya, tidur adalah mengistirahatkan sejenak pikiran yang sedang kacau-balau.

Sesekali kalau sudah tidak tahan lagi, aku bisa menangis sejadi-jadinya. Namun itu terjadi di kala aku sendirian di kamar. Kemarin, ada seorang kawan yang update IG Story yang menyiratkan bahwa tak apa sesekali terlihat lemah. Aku pun membalas story itu dengan hugs emoji. Ia juga membalas dengan hal serupa. Pada kesempatan itu, ia berkata bahwa saat sedang semangat ya semangat, dan saat sedang tidak semangat ya tidak semangat. Ia menambahkan, sudah tidak mau lagi memaksakan diri untuk semangat. Intinya, ia capek berpura-pura menjadi orang lain. Aku pun menyetujui dan mengafirmasi hal tersebut.

Meski hampir semua orang (mungkin) mengalami Duck Syndrome, hidup tetap harus berjalan. Makan seperti biasanya, tidur seperti biasanya, dan beraktivitas seperti biasanya. Namun sesekali bersikap jujur pada diri sendiri itu tidaklah mengapa, karena berusaha untuk tetap terlihat baik-baik saja itu melelahkan dan kadang menyakitkan, serta bisa terkena gangguan psikologis juga.

Posting Komentar

0 Komentar